Senin, 26 November 2012

“Pengaruh Bokashi Pupuk Kandang Ayam Terhadap Hasil Tanaman Terung (Solanun melongena L.)”.


I.     PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
            Terung merupakan salah satu golongan sayuran buah yang banyak digemari berbagi kalangan karena rasanya yang enak untuk dijadikan berbagai sayur dan lalapan, juga mengandung gizi cukup tinggi dan komposisinya lengkap (Rukmana, 2003). Berdasarkan beberapa hasil pengujian, didalam setiap 100 kg buah terung segar mengandung 24 kalori energi, 1,1 gram protein, 1,2 g  lemak, 5,5 g karbohidrat, 15 mg kalsium, 37 mg fospor, 0,4 mg besi, 4 SI Vitamin A, 5 mg vitamin C, 1,14 mg vitamin B1 dan 92,7 g air (Soetasad, Muryanti dan Sunarjono, 2003).

 
            Terung memiliki nilai ekonomis dan sosial yang cukup tinggi. Produksi terung tidak hanya laku di pasaran dalam negeri (domestik), tetapi juga sudah menjadi mata dagang ekspor. Bentuk produk terung yang sudah menembus pasar ekspor adalah “terung asinan” (Rukmana, 2003). Distribusi pemasarannya tidak hanya dilakukan di pasar-pasar tradisional saja, namun juga di supermarket ataupun toko-toko swalayan (Samadi, 2001). Selain itu kemajuan di bidang pengolahan hasil pertanian yang semakin berkembang dapat memperluas pemasaran terung, misalnya manisan dan asinan terung. Oleh sebab itu, komoditas terung sangat potensial untuk dikembangkan secara intensif (Rukmana, 2003). Berdasarkan hal tersebut, tehnik budidaya terung dapat ditingkatkan dengan melakukan pemupukan.
            Pemupukan yang dilakukan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan unsur hara yang dibutuhkan selama pertumbuhan tanaman. Pupuk yang diberikan dapat berupa pupuk organik maupun pupuk anorganik. Namun, penggunaan pupuk anorganik saat ini kurang ekonomis karena harganya yang relative mahal, juga dampak negatifnya bagi lingkungan (Risema, 1986). Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa-sisa tanaman, hewan dan manusia. Macam-macam pupuk organik antara lain adalah pupuk kandang, pupuk hijau, kompos dan lain sebagainya.
            Pupuk kandang memang dapat menambah ketersediaan bahan makanan (unsur hara) bagi tanaman yang dapat diserapnya dari dalam tanah. Selain itu, pupuk kandang ternyata mempunyai pengaruh positif (baik) terhadap sifat fisik dan kimia tanah, mendorong kehidupan (perkembangan) jasad renik (Sutejo, 1995). Selain itu, pupuk organik tidak menimbulkan polusi bagi lingkungan terutama tanah.
            Pupuk kandang ayam merupakan salah satu pupuk organik yang sangat baik untuk dikembangkan. Pupuk kandang adalah campuran dari kotoran padat dan cair yang tercampur dengan sisa makanan dan alas kandang. Kandungan unsur hara pupuk kandang terdiri dari campuran 0,5% N, 0,25% P2O5 dan 0,5% K2O, hal ini sangat bervariasi tergantung pada kondisi lingkungan dan pakan yang diberikan. Pupuk kandang mempunyai beberapa sifat yang lebih baik dari pada pupuk alami lainnya, karena selain sebagai sumber unsur hara, pupuk kandang juga dapat meningkatkan kadar humus tanah, daya menahan air dan banyak mengandung mikroorganisme (Sarief, 1986).
             Higa (1997) mengatakan bahwa dalam usaha menunjang sistem pertanian yang berkelanjutan atau sistem pertanian yang peduli lingkungan maka dilakukan dengan pemanfaatan mikroorganisme untuk meningkatkan pertumbuhan produksi tanaman. Salah satunya dengan memberikan bahan organik yang terfermentasi (bokashi).
            Bokashi adalah hasil fermentasi bahan organik (jerami, sampah organik, sekam, daun-daunan dan pupuk kandang) dengan bantuan Effektive Mikroorganisme-4 (EM-4). Menurut Wididana dan Higa (1993), EM-4 merupakan kultur campuran mikroorganisme yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. EM-4 diaplikasikan sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman dan populasi mikroorganisme dalam tanah, yang selanjutnya dapat meningkatkan pertumbuhan, kualitas dan kuntitas tanaman.
            Bokashi pupuk kandang ayam dibandingkan dengan dengan pupuk organik lainnya (tanpa inokuasi EM-4) mempunyai keunggulan yaitu mampu meningkatkan aktifitas mikroorganisme indegenus menguntungkan dan meningkatkan fiksasi nitrogen dalam waktu yang cepat, sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Disamping itu bokashi pupuk kandang ayam juga dapat memperbaiki aerase tanah, memperbesar daya serap tanah terhadap air dan dapat menekan pathogen pada tanaman (Priyadi, 1996).
            Hasil penelitian Mawardi (2001) memperlihatkan bahwa pemberian bokashi memberikan pengaruh terhadap peningkatan ketersediaan hara N, P, dan K pada dosis 2,5 ton ha-1 dan memberikan pengaruh terbaik terhadap peningkatan N, P, dan K serta hasil bobot biji kering tanaman kedelai. Hasil penelitian Saputro (2000), pemberian bokashi pupuk kandang ayam dengan dosis 7,5 ton ha-1 dapat memberikan pertumbuhan dan hasil yang optimal bagi tanaman selada.
            Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk memilih proposal penelitian dengan judul “Pengaruh Bokashi Pupuk Kandang Ayam Terhadap Hasil Tanaman Terung (Solanun melongena L.)”.

1.2. Tujuan Penelitian
            Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis bokashi pupuk kandang ayam yang memberikan hasil terbaik pada tanaman terung.
1.3.  Kegunaan Penelitian
            Penelitian ini hasilnya diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran dan informasi bagi pihak-pihak yang memerlukan dalam usaha peningkatan hasil tanaman terung.
1.4.   Hipotesis
1.    Pemberian berbagai dosis bokashi pupuk kandang ayam, memberikan pengaruh terhadap hasil tanaman terung.
2.    Didapatkan satu dosis bokashi pupuk kandang ayam yang memberikan hasil terbaik pada tanaman terung.





II.  TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Umum Tanaman Terung
            Dalam tatanama (sistematika) tumbuhan, tanaman terung diklasifikasikan ke dalam Divisio Spermatophyta, Sub-divisio  Angiospermae, Kelas Dicotyledonae, Ordo Tubiflorae, Famili Solanaceae, Genus Solanum dan Spesies Solanum melongena L. (Rukmana, 2003).
            Terung termasuk tanaman setahun yang berbentuk perdu. Batangnya rendah (pendek), berkayu dan bercabang dengan tinggi tanaman bervariasi antara 50-150 cm, tergantung dari jenis ataupun varietasnya. Menurut Soetasad, Muryanti dan Sunarjono (2003) batang tanaman terung dibedakan menjadi dua macam, yaitu batang utama (batang primer) dan percabangan (batang sekunder). Batang utama merupakan penyangga berdirinya tanaman, sedangkan percabangan adalah bagian tanaman yang akan mengeluarkan bunga.
            Daun terung terdiri atas tangkai daun dan helaian daun. Tangkai daun berbentuk silindris dengan sisi agak pipih dan menebal dibagian pangkal, panjangnya bersekitar 5-8 cm. Helaian daun terdiri atas ibu tulang, tulang cabang dan urat-urat daun (Soetasad, Muryanti dan Sunarjono, 2003).
            Bunga terung berbentuk mirip bintang, berwarna biru atau lembayung cerah sampai warna yang lebih gelap. Bunga terung tidak mekar secara serempak dan penyerbukan bunga dapat terjadi secara silang ataupun menyerbuk sendiri (Rukmana, 2003). Soetasad, Muryanti dan Sunarjono (2003) menambahkan bahwa bunga terung disebut bunga banci karena dalam satu bunga terdapat benang sari (kelamin jantan) dan putik (kelamin betina).
            Buah terung merupakan buah sejati tunggal dan berdaging tebal, lunak, serta tidak akan pecah bila buah telah masak. Daging buah ini merupakan bagian yang enak dimakan dan berwarna hijau atau keunguan. Biji-biji terdapat bebas dalam daging buah (Soetasad, Muryanti dan Sunarjono, 2003). Buah menghasilkan biji yang ukurannya kecil-kecil berbentuk pipih dan berwarna coklat muda.
            Tanaman terung mempunyai akar tunggang dan cabang-cabang akar yang dapat menembus kedalaman tanah sekitar 80-100 cm. Akar-akar yang tumbuh mendatar dapat menyebar pada radius 40-80 cm dari pangkal batang, tergantung dari umur tanaman dan kesuburan tanah (Rukmana, 2003).
2.2. Syarat Tumbuh Tanaman Terung
            Tanaman terung dapat tumbuh dan berproduksi baik di dataran rendah sampai dataran tinggi ± 1.000 meter dari permukaan laut. Selama pertumbuhannya,  tanaman terung menghendaki keadaan suhu udara antara 22º-30º C, cuaca panas dan iklim kering, sehingga cocok ditanam pada musim kemarau. Sebab, pada keadaan cuaca panas akan merangsang dan mempercepat proses pembungaan maupun pembuahan (Rukmana, 2003).
            Menurut Samadi (2001), intensitas cahaya sangat berpengaruh terhadap kualitas buah, terutama pada penampakkan kulit buahnya. Pada pencahayaan yang cukup, warna kulit buah terung akan tampak merata dan lebih mengkilap.
            Tanaman terung dapat tumbuh pada hampir semua jenis tanah. Tetapi keadaan tanah yang paling baik untuk tanaman terung adalah jenis lempung, berpasir, subur, kaya akan bahan organik, aerasi dan drainasenya baik serta pada pH 5-6 (Soetasad, Muryanti dan Sunarjono, 2003).
2.3.Pengaruh Bokashi terhadap Hasil Tanaman
            Dalam usaha menunjang sistem pertanian organik yang merupakan sistem pertanian yang peduli lingkungan, maka dilakukan usaha untuk memanfaatkan mikroorganisme dan bahan organik untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.
            Menurut Sarief (1986), melalui proses dekomposisi, bahan organik dalam pupuk kandang akan melepaskan unsur hara seperti N, P dan K yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Isro (1994) menyatakan bahwa bahan organik berupa pupuk kandang ayam akan diuraikan oleh mikroorganisme tanah dan menghasilkan bahan humus yang mampu meningkatkan agregasi tanah. Agregasi tanah ini secara tidak langsung akan memperbaiki ketersediaan unsur hara. Selain itu agregasi tanah yang baik akan menjamin tata udara tanah dan air sehingga aktifitas mikroorganisme dapat berlangsung dengan baik dan ketersediaan beberapa hara yang dapat ditingkatkan.
            Menurut Wididana (1994), EM-4 dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman, karena EM-4 dapat mempercepat dekomposisi bahan organik, sehingga ketersediaan nutrisi tanaman meningkat. Selain itu EM-4 juga dapat menekan aktifitas hama dan mikroorganisme patogen.
            Higa (1994) menerangkan secara ilmiah bahwa EM-4 dapat meningkatkan produksi tanaman melalui reaksi fermentasi yang menghasilkan asam organik, hormon tanaman (Auxin, Giberelin, Sitokinin) dan polisakarida. Selain itu dapat pula memacu pertumbuhan tanaman dengan memperbaiki dekomposisi bahan organik dan residu serta mempercepat daur unsur hara.
            EM-4 merupakan salah satu pemanfaatan mikroorganisme yang bersifat menguntungkan. Penerapan teknologi EM-4 dapat dilakukan dengan memfermentasikan bahan organik (jerami, pupuk kandang ayam dan lain sebagainya). Hasil fermentasi bahan organik dengan bantuan EM-4 disebut dengan bokashi (Wididana, 1998).
            Bokashi banyak mengandung unsur hara yang bermanfaat bagi tanaman. Selain itu pemberian pupuk bokashi dapat memperbaiki daya dukung lahan, baik fisik, biologi maupun kimia tanah. Secara umum bokashi mengandung unsur hara 4,96 %, P2O5 0,34%, K2O 1,90%, protein 30,20%, karbohidrat 22,96%, lemak 11,21%, alkohol 114,03% mg/100 g dan kandungan gula 15,75% serta vitamin C 0,46 mg/100 g, vitamin B12 5,04 mg/100 g, asam amino 80,19 mg/100 g (Wididana dan Wigenasentana, 1991).
            EM-4 dalam bokashi dapat memacu aktifitas mikroorganisme yang menguntungkan seperti rhizobium, bakteri pelarut posfat dan mikoriza. Mikroorganisme ini sangat berperan dalam meningkatkan ketersediaan unsur hara, terutama unsur N dan P (Wididana dan Higa, 1993).
            Berdasarkan uraian diatas maka bokashi pupuk kandang ayam dapat dijadikan sebagai salah satu sumber bahan organik yang dapat membantu meningkatkan produksi tanaman. Penggunaan bokashi secara umum direkomendasikan 200 g m-2 permukaan tanah atau 2 ton ha-1. Akan tetapi untuk tanah miskin unsur hara atau  kandungan unsur haranya sedikit, dianjurkan maksimum penggunaan bokashi 1 kg m-2 atau 10 ton ha-1. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Priyadi (1996), yang melaporkan pemberian bokashi pupuk kandang ayam dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil kubis bunga bila di bandingkan dengan bokashi pupuk kandang ayam tanpa inokulasi EM-4 dan dosis yang terbaik pada 10 ton ha-1.
            Hasil penelitian Musdalifah (2000), menunjukkan bahwa pemberiaan  bokashi pupuk kandang ayam dengan dosis 4 ton ha-1 pada tanaman tomat memberikan respon yang baik pada tinggi tanaman dan rata-rata bobot per buah. Sedangkan dosis 5 ton ha-1 memberikan hasil yang baik pada jumlah bunga, jumlah buah per tanaman dan bobot kering tanaman.

I.     PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
            Terung merupakan salah satu golongan sayuran buah yang banyak digemari berbagi kalangan karena rasanya yang enak untuk dijadikan berbagai sayur dan lalapan, juga mengandung gizi cukup tinggi dan komposisinya lengkap (Rukmana, 2003). Berdasarkan beberapa hasil pengujian, didalam setiap 100 kg buah terung segar mengandung 24 kalori energi, 1,1 gram protein, 1,2 g  lemak, 5,5 g karbohidrat, 15 mg kalsium, 37 mg fospor, 0,4 mg besi, 4 SI Vitamin A, 5 mg vitamin C, 1,14 mg vitamin B1 dan 92,7 g air (Soetasad, Muryanti dan Sunarjono, 2003).
            Terung memiliki nilai ekonomis dan sosial yang cukup tinggi. Produksi terung tidak hanya laku di pasaran dalam negeri (domestik), tetapi juga sudah menjadi mata dagang ekspor. Bentuk produk terung yang sudah menembus pasar ekspor adalah “terung asinan” (Rukmana, 2003). Distribusi pemasarannya tidak hanya dilakukan di pasar-pasar tradisional saja, namun juga di supermarket ataupun toko-toko swalayan (Samadi, 2001). Selain itu kemajuan di bidang pengolahan hasil pertanian yang semakin berkembang dapat memperluas pemasaran terung, misalnya manisan dan asinan terung. Oleh sebab itu, komoditas terung sangat potensial untuk dikembangkan secara intensif (Rukmana, 2003). Berdasarkan hal tersebut, tehnik budidaya terung dapat ditingkatkan dengan melakukan pemupukan.
            Pemupukan yang dilakukan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan unsur hara yang dibutuhkan selama pertumbuhan tanaman. Pupuk yang diberikan dapat berupa pupuk organik maupun pupuk anorganik. Namun, penggunaan pupuk anorganik saat ini kurang ekonomis karena harganya yang relative mahal, juga dampak negatifnya bagi lingkungan (Risema, 1986). Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa-sisa tanaman, hewan dan manusia. Macam-macam pupuk organik antara lain adalah pupuk kandang, pupuk hijau, kompos dan lain sebagainya.
            Pupuk kandang memang dapat menambah ketersediaan bahan makanan (unsur hara) bagi tanaman yang dapat diserapnya dari dalam tanah. Selain itu, pupuk kandang ternyata mempunyai pengaruh positif (baik) terhadap sifat fisik dan kimia tanah, mendorong kehidupan (perkembangan) jasad renik (Sutejo, 1995). Selain itu, pupuk organik tidak menimbulkan polusi bagi lingkungan terutama tanah.
            Pupuk kandang ayam merupakan salah satu pupuk organik yang sangat baik untuk dikembangkan. Pupuk kandang adalah campuran dari kotoran padat dan cair yang tercampur dengan sisa makanan dan alas kandang. Kandungan unsur hara pupuk kandang terdiri dari campuran 0,5% N, 0,25% P2O5 dan 0,5% K2O, hal ini sangat bervariasi tergantung pada kondisi lingkungan dan pakan yang diberikan. Pupuk kandang mempunyai beberapa sifat yang lebih baik dari pada pupuk alami lainnya, karena selain sebagai sumber unsur hara, pupuk kandang juga dapat meningkatkan kadar humus tanah, daya menahan air dan banyak mengandung mikroorganisme (Sarief, 1986).
             Higa (1997) mengatakan bahwa dalam usaha menunjang sistem pertanian yang berkelanjutan atau sistem pertanian yang peduli lingkungan maka dilakukan dengan pemanfaatan mikroorganisme untuk meningkatkan pertumbuhan produksi tanaman. Salah satunya dengan memberikan bahan organik yang terfermentasi (bokashi).
            Bokashi adalah hasil fermentasi bahan organik (jerami, sampah organik, sekam, daun-daunan dan pupuk kandang) dengan bantuan Effektive Mikroorganisme-4 (EM-4). Menurut Wididana dan Higa (1993), EM-4 merupakan kultur campuran mikroorganisme yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. EM-4 diaplikasikan sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman dan populasi mikroorganisme dalam tanah, yang selanjutnya dapat meningkatkan pertumbuhan, kualitas dan kuntitas tanaman.
            Bokashi pupuk kandang ayam dibandingkan dengan dengan pupuk organik lainnya (tanpa inokuasi EM-4) mempunyai keunggulan yaitu mampu meningkatkan aktifitas mikroorganisme indegenus menguntungkan dan meningkatkan fiksasi nitrogen dalam waktu yang cepat, sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Disamping itu bokashi pupuk kandang ayam juga dapat memperbaiki aerase tanah, memperbesar daya serap tanah terhadap air dan dapat menekan pathogen pada tanaman (Priyadi, 1996).
            Hasil penelitian Mawardi (2001) memperlihatkan bahwa pemberian bokashi memberikan pengaruh terhadap peningkatan ketersediaan hara N, P, dan K pada dosis 2,5 ton ha-1 dan memberikan pengaruh terbaik terhadap peningkatan N, P, dan K serta hasil bobot biji kering tanaman kedelai. Hasil penelitian Saputro (2000), pemberian bokashi pupuk kandang ayam dengan dosis 7,5 ton ha-1 dapat memberikan pertumbuhan dan hasil yang optimal bagi tanaman selada.
            Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk memilih proposal penelitian dengan judul “Pengaruh Bokashi Pupuk Kandang Ayam Terhadap Hasil Tanaman Terung (Solanun melongena L.)”.

1.2. Tujuan Penelitian
            Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis bokashi pupuk kandang ayam yang memberikan hasil terbaik pada tanaman terung.
1.3.  Kegunaan Penelitian
            Penelitian ini hasilnya diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran dan informasi bagi pihak-pihak yang memerlukan dalam usaha peningkatan hasil tanaman terung.
1.4.   Hipotesis
1.    Pemberian berbagai dosis bokashi pupuk kandang ayam, memberikan pengaruh terhadap hasil tanaman terung.
2.    Didapatkan satu dosis bokashi pupuk kandang ayam yang memberikan hasil terbaik pada tanaman terung.




II.  TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Umum Tanaman Terung
            Dalam tatanama (sistematika) tumbuhan, tanaman terung diklasifikasikan ke dalam Divisio Spermatophyta, Sub-divisio  Angiospermae, Kelas Dicotyledonae, Ordo Tubiflorae, Famili Solanaceae, Genus Solanum dan Spesies Solanum melongena L. (Rukmana, 2003).
            Terung termasuk tanaman setahun yang berbentuk perdu. Batangnya rendah (pendek), berkayu dan bercabang dengan tinggi tanaman bervariasi antara 50-150 cm, tergantung dari jenis ataupun varietasnya. Menurut Soetasad, Muryanti dan Sunarjono (2003) batang tanaman terung dibedakan menjadi dua macam, yaitu batang utama (batang primer) dan percabangan (batang sekunder). Batang utama merupakan penyangga berdirinya tanaman, sedangkan percabangan adalah bagian tanaman yang akan mengeluarkan bunga.
            Daun terung terdiri atas tangkai daun dan helaian daun. Tangkai daun berbentuk silindris dengan sisi agak pipih dan menebal dibagian pangkal, panjangnya bersekitar 5-8 cm. Helaian daun terdiri atas ibu tulang, tulang cabang dan urat-urat daun (Soetasad, Muryanti dan Sunarjono, 2003).
            Bunga terung berbentuk mirip bintang, berwarna biru atau lembayung cerah sampai warna yang lebih gelap. Bunga terung tidak mekar secara serempak dan penyerbukan bunga dapat terjadi secara silang ataupun menyerbuk sendiri (Rukmana, 2003). Soetasad, Muryanti dan Sunarjono (2003) menambahkan bahwa bunga terung disebut bunga banci karena dalam satu bunga terdapat benang sari (kelamin jantan) dan putik (kelamin betina).
            Buah terung merupakan buah sejati tunggal dan berdaging tebal, lunak, serta tidak akan pecah bila buah telah masak. Daging buah ini merupakan bagian yang enak dimakan dan berwarna hijau atau keunguan. Biji-biji terdapat bebas dalam daging buah (Soetasad, Muryanti dan Sunarjono, 2003). Buah menghasilkan biji yang ukurannya kecil-kecil berbentuk pipih dan berwarna coklat muda.
            Tanaman terung mempunyai akar tunggang dan cabang-cabang akar yang dapat menembus kedalaman tanah sekitar 80-100 cm. Akar-akar yang tumbuh mendatar dapat menyebar pada radius 40-80 cm dari pangkal batang, tergantung dari umur tanaman dan kesuburan tanah (Rukmana, 2003).
2.2. Syarat Tumbuh Tanaman Terung
            Tanaman terung dapat tumbuh dan berproduksi baik di dataran rendah sampai dataran tinggi ± 1.000 meter dari permukaan laut. Selama pertumbuhannya,  tanaman terung menghendaki keadaan suhu udara antara 22º-30º C, cuaca panas dan iklim kering, sehingga cocok ditanam pada musim kemarau. Sebab, pada keadaan cuaca panas akan merangsang dan mempercepat proses pembungaan maupun pembuahan (Rukmana, 2003).
            Menurut Samadi (2001), intensitas cahaya sangat berpengaruh terhadap kualitas buah, terutama pada penampakkan kulit buahnya. Pada pencahayaan yang cukup, warna kulit buah terung akan tampak merata dan lebih mengkilap.
            Tanaman terung dapat tumbuh pada hampir semua jenis tanah. Tetapi keadaan tanah yang paling baik untuk tanaman terung adalah jenis lempung, berpasir, subur, kaya akan bahan organik, aerasi dan drainasenya baik serta pada pH 5-6 (Soetasad, Muryanti dan Sunarjono, 2003).
2.3.Pengaruh Bokashi terhadap Hasil Tanaman
            Dalam usaha menunjang sistem pertanian organik yang merupakan sistem pertanian yang peduli lingkungan, maka dilakukan usaha untuk memanfaatkan mikroorganisme dan bahan organik untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.
            Menurut Sarief (1986), melalui proses dekomposisi, bahan organik dalam pupuk kandang akan melepaskan unsur hara seperti N, P dan K yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Isro (1994) menyatakan bahwa bahan organik berupa pupuk kandang ayam akan diuraikan oleh mikroorganisme tanah dan menghasilkan bahan humus yang mampu meningkatkan agregasi tanah. Agregasi tanah ini secara tidak langsung akan memperbaiki ketersediaan unsur hara. Selain itu agregasi tanah yang baik akan menjamin tata udara tanah dan air sehingga aktifitas mikroorganisme dapat berlangsung dengan baik dan ketersediaan beberapa hara yang dapat ditingkatkan.
            Menurut Wididana (1994), EM-4 dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman, karena EM-4 dapat mempercepat dekomposisi bahan organik, sehingga ketersediaan nutrisi tanaman meningkat. Selain itu EM-4 juga dapat menekan aktifitas hama dan mikroorganisme patogen.
            Higa (1994) menerangkan secara ilmiah bahwa EM-4 dapat meningkatkan produksi tanaman melalui reaksi fermentasi yang menghasilkan asam organik, hormon tanaman (Auxin, Giberelin, Sitokinin) dan polisakarida. Selain itu dapat pula memacu pertumbuhan tanaman dengan memperbaiki dekomposisi bahan organik dan residu serta mempercepat daur unsur hara.
            EM-4 merupakan salah satu pemanfaatan mikroorganisme yang bersifat menguntungkan. Penerapan teknologi EM-4 dapat dilakukan dengan memfermentasikan bahan organik (jerami, pupuk kandang ayam dan lain sebagainya). Hasil fermentasi bahan organik dengan bantuan EM-4 disebut dengan bokashi (Wididana, 1998).
            Bokashi banyak mengandung unsur hara yang bermanfaat bagi tanaman. Selain itu pemberian pupuk bokashi dapat memperbaiki daya dukung lahan, baik fisik, biologi maupun kimia tanah. Secara umum bokashi mengandung unsur hara 4,96 %, P2O5 0,34%, K2O 1,90%, protein 30,20%, karbohidrat 22,96%, lemak 11,21%, alkohol 114,03% mg/100 g dan kandungan gula 15,75% serta vitamin C 0,46 mg/100 g, vitamin B12 5,04 mg/100 g, asam amino 80,19 mg/100 g (Wididana dan Wigenasentana, 1991).
            EM-4 dalam bokashi dapat memacu aktifitas mikroorganisme yang menguntungkan seperti rhizobium, bakteri pelarut posfat dan mikoriza. Mikroorganisme ini sangat berperan dalam meningkatkan ketersediaan unsur hara, terutama unsur N dan P (Wididana dan Higa, 1993).
            Berdasarkan uraian diatas maka bokashi pupuk kandang ayam dapat dijadikan sebagai salah satu sumber bahan organik yang dapat membantu meningkatkan produksi tanaman. Penggunaan bokashi secara umum direkomendasikan 200 g m-2 permukaan tanah atau 2 ton ha-1. Akan tetapi untuk tanah miskin unsur hara atau  kandungan unsur haranya sedikit, dianjurkan maksimum penggunaan bokashi 1 kg m-2 atau 10 ton ha-1. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Priyadi (1996), yang melaporkan pemberian bokashi pupuk kandang ayam dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil kubis bunga bila di bandingkan dengan bokashi pupuk kandang ayam tanpa inokulasi EM-4 dan dosis yang terbaik pada 10 ton ha-1.
            Hasil penelitian Musdalifah (2000), menunjukkan bahwa pemberiaan  bokashi pupuk kandang ayam dengan dosis 4 ton ha-1 pada tanaman tomat memberikan respon yang baik pada tinggi tanaman dan rata-rata bobot per buah. Sedangkan dosis 5 ton ha-1 memberikan hasil yang baik pada jumlah bunga, jumlah buah per tanaman dan bobot kering tanaman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar